Hei brew… hei sistaa, wahh emang udah agak lama ya saya ga
update, blog saya jadi keteteran, mana banyak debunya lagi, uhuk! *brb, ambil
kemoceng dan obat serangga*
Kalo diingat-ingat update post saya yang paling terakhir
adalah saat-saat dimana bencana abad ini yaitu tren “ciyus, miapah” masih belum
menjangkit saking lamanya *ceritanya lagi ngomong sambil pake masker dan nyemprotin obat
serangga. Bukannya saya ga punya cerita,
tapi.. tapi.. tapii… *mikirin alibi. Malas ini membunuhku kawand :’’’
Jadi saya mau cerita apa nih? Ga jauh-jauh dari tema post
sebelumnya, yaitu jalan-jalan. Ceritanya saya kan emang lagi UTS, eh, tau-tau
banyak harpitnas-nya, ga tanggung-tanggung ada yang sampai tiga hari. Kenapa
bisa seperti itu ya?? saya juga kurang mengerti, mungkin karena saya ganteng.
Ada kelebihan dan kekurangan menurut saya melihat jadwal UTS
yang ga full dan bolong-bolong itu tadi. Kelebihannya, kalo jarak UTS matkul satu
sama matkul lain dipisahkan oleh yang namanya libur, apalagi sampai beberapa
hari, maka waktu panjang tersebut bisa dijadikan kesempatan untuk belajar,
terlebih matkul yang bakal dihadapin itu kinda destroyer of your grade. Jadi
bersyukurlah diberi waktu lebih banyak buat belajar. Mungkin kelebihan tadi cuma
perspektif mahasiswa yang ambisius sama nilai kali ya?
Kedua, bagi mereka (didalamnya ada saya) yang tidak sabar
pengen ripresing, yang udah gerah dengan suasana kuliah, yang mukanya semakin suram sama
UTS, harpitnas dua tiga hari bisa jadi waktu yang sangat berarti dan berpengaruh bagi
keberlangsungan hidup mereka, fufufu… *lebay.
Kekurangannya bisa dilihat dari perspektif mahasiswa yang berstatus
“mahasiswa perantauan”, yang jauh dari luar kota, specifically kategori Mahasiswa Jauh Menengah. Oke, akan saya jelaskan dulu, kenapa tetiba saja
istilah mahasiswa jauh menengah bisa muncul begitu. Jadi gini, mau tidak mau
anda harus menerima bahwa saya telah mengkategorikan tipe “mahasiswa perantauan”
ke dalam tiga kategori, pertama, Mahasiswa Jauh Tanggung, adalah mahasiswa yang asalnya dari luar kota dan bisa
pulang dengan perjalanan yang lamanya tidak sampai seharian. Biasanya mahasiswa
kategori ini libur-libur sehari juga masih bisa dikejarin pulang, atau bahkan bisa
saja pas ga libur sama sekali. Begitu pulang ngampus langsung berangkat pulkam,
baliknya lagi subuh-subuh besoknya. Angkutan umum
yang terjangkau harganya atau naik motor juga ga jadi masalah berat. Maka dari
itu saya beri nama Mahasiswa Jauh Tanggung. Nanggung banget jauhnya . Karena masih
banyak mahasiswa kategori ini yang masih mengaku bahwa kampungnya jauh K <- pengalaman.
Kedua, Mahasiswa Jauh Menengah, mahasiswa kategori ini bisa
menikmati pulang kampung pas libur minimal 4 harian, terlebih hitungannya minggu. Biasanya perjalanan yang
ditempuh saat pulkam bisa menghabiskan waktu seharian via darat. Kalau libur
dipertengahan UTS seperti yang saya alami ini hanya dua atau tiga hari saja, maka dapat dilihat perbedaan kasusnya dengan mahasiswa
kategori lain. Disini bukannya jaraknya yang nanggung, tapi jumlah hari
liburnya yang nanggung. Inilah yang menjadi kekurangan dari jadwal bolong UTS
yang hanya beberapa hari saja, mahasiswa kategori ini pasti akan misuh-misuh “Andai
semua jadwal libur di sepanjang UTS itu diakumulasikan, pasti bisa puas dipake
buat pulkam.” Biasanya sehari sebelum libur, terutama saat baru aja selesai UTS,
mulai banyak mahasiswa kategori ini yang berjatuhan disebabkan virus bernama galau
sp. yang menginfeksi rongga dada mereka, korban yang berjatuhan akan semakin
bertambah dan semakin menjadi saat sore mulai menjelang. Gejala yang paling
utama timbul adalah, berkecamuknya di otak mereka pikiran-pikiran seperti “Gue bingung mau pulang apa engga, sialan, masa cuma dikasih
libur tiga hari, mana duit tinggal segini lagi, kan nonsense banget kalo dipake
buat pulkam yang cuma tiga hari, belum lagi di kereta atau di bus bisa seharian,
abis dah jatah libur gue. Dafuq! kenapa ga digabung aja sih jadi libur UTS?
aduh, pulang ga ya?? udah keburu malam nih… nanti busnya udah ga ada lagi, dan
seterusnya dan seterusnya….”
Ketiga, Mahasiswa Jauh Sejati, kalau yang ini jangan ditanya
lagi, jauhnya naujibileh deh. Sudah pasti kesempatan pulkam kemungkinan besar cuma
bisa didapat begitu libur panjang, sepanjang rambutnya kuntilanak *garing
*biarin,ppuihh . Bisa hitungan bulan. Biasanya opsinya cuma ada dua, ongkos maharani
lama perjalanan seberanda, atau, ongkos murasydin lama perjalanan gamalama (ket
: maharani=mahal; seberanda=sebentar; murasyidin=murah; gamalam=lama; intinya=bahasanya ribet) . Saya
yang masuk kategori ini tetap saja merasa semahal-mahalnya ongkos, secape-capenya
lama perjalanan, semuanya itu tetap akan terbayar begitu rindu-kangen-banget-sumpe-deh-kalo-ga-percaya
sama kampung sudah terpenuhi.
Di otak saya masih punya banyak sih kategori-kategori tambahan
lainnya, tapi untuk sekarang cukup garis besarnya saja, takutnya melenceng dari
judul utama. Bukannya dari tadi udah melenceng ya?? hehe... *digaplok pembaca. Mungkin minggu depan bisa ditambahkan ke post baru, kenapa
ditambahkannya minggu depan? Karena senin harga sudah naik, fufufu…
At least tiga hari vakum UTS tersebut saya pakai untuk jalan-jalan
keliling Jogja City (baca : Jogja Seteh) bersama Gata plus saya menginap di
rumahnya di daerah Papringan dekat Ambarukmo Plaza. Awalnya saya juga ngajakin
Danu, tapi katanya Danu mau pulang.
Pengen tau kan gimana kelanjutannya?? Gimana ceritanya?? Gimana
serunya?? Makanya ketik REG spasi Deki, sekali lagi ketik REG spasi Deki. Sms
yang kamu dapat langsung dari hp aku, bukan dari manajer aku, bukan dari
siapa-siapa. Sekali lagi ketik REG spasi Deki. Argh, naluri superstar wannabe-nya keluar. Pokoknya
see you next post aja deh, hehe…
So.. you see..?? Makanya saya pisahin post ini ke subbab “Sepatah Kata”, melihat kata pengantarnya saja sudah menghabiskan dua lembar -.-“ .
Malam minggu malam yang ditunggu-tunggu, bagi para pasangan,
apel mengapel sang pacar sudah seperti kewajiban… dan bagi para sebagian jomblo…
ngapelin teman-temannya yang juga jomblo… atau sedang dalam masa-masa krisis
jarak, which is usually called… LDR. ~lalala~
***
Sabtu pagi, seusai kelas olahraga yang pada hari itu kita
kebagian materi SKJ ceria bak acara rutin ibu-ibu Dharma Wanita diakhir
pekan. Saya, Danu, Tosa, Gata, dan Bima menyusun rapat pleno berkaitan wacana
lawas bermalam minggu ke Lawang Sewu. Disusul kemudian Niku nimbrung minta
diajak. Dan fix kita ber-6 berangkat malam hari-nya, walau pada akhirnya Bima
tidak jadi ikut karena sesuatu hal.
Lalu Tosa mengajak temannya, Tata, dari teknik sipil, dan jadilah
kita tetap ber-6 orang OTW Lawang Sewu.
The Cast
Saiia cii Deky Ciendtta KamM0h Cel4manaaah mpolepelll in My He4Rt
From left to right : Danu, Gata
Niku, Tosa, Tata (guest cast)
***
Cerita berawal dari kebegoan Danu mengikuti orang yang disangkanya Gata. Setelah bingung dibawa kemana oleh orang yang mirip Gata dari belakang itu, dia memberanikan diri mendekat dan memanggilnya, namun orang tadi tidak menoleh. Lalu ia mencoba memanggil lebih keras! Ya! lebih keras! Angkat tangan mu… seperti ini… kemudian panggil! Lebih keras! (ini kenapa jadi Dora).
Apa kesimpulan yang dapat ditarik dari kecerobohan si Danu
tadi? Kita yang lebih duluan sampai jadi nungguin lama beeed kedatangan si
Danu. Belum lagi pas dia akhirnya sampai, si Danu plenga plongo dulu nyariin
kita padahal dari jauh saja sama kita dia sudah keliatan, namun kita diam saja. Menyaksikan wajah nya plenga plongo itu jadi hiburan
tersendiri.
Memasuki Gerbang Tol Cikampek, maksud saya gerbang Lawang Sewu,
kami dihadapkan dengan loket seadanya. Seorang ibu-ibu duduk di bangku seperti
bangku di sekolahan. Di atas mejanya ada buku dan pajangan cindera mata Lawang
Sewu. Lebih mirip konter penjual pulsa menurut saya.
Kita ditipu Bonar. Bonar yang ngakunya sudah biasa ke Lawang
Sewu bilang masuk Lawang Sewu cuma goceng, tau tau kami mesti keluar duit
15ribu masing-masing. Dengan rincian uang masuk
per kepala 10ribu dan uang pemandu 30rb. Karena kami ber-6 artinya kami mesti
patungan 5ribu per orang untuk pemandu. Sehingga total masing-masing jadi 15ribu.
Yang bikin saya paling antusias ke lawang sewu adalah bahwa
memang bukan isapan jempol belaka lagi kalau Lawang Sewu adalah tempat paling
angker se-Indonesia Raya. Bahkan mungkin salah satunya di dunia. Saya sudah
sering dengar cerita dari teman-teman
tentang ke-horror-an bekas gedung kereta api ini. Mereka punya pengalaman
mistis sendiri-sendiri saat berkunjung ke Lawang Sewu. Apalagi di tv-tv, Lawang
Sewu malah lebih terkenal angkernya daripada historikal dan estetika gedungnya
sendiri. Kali aja saya juga dapat pengalaman "kecut" seperti itu.
Pertama-tama si pemandu menawarkan diri untuk memfoto kami, dengan
senang hati lah! kita terima! Meski hasilnya nge-blur parah karena pengaturan
fokus kamera digital yang kita bawa di malam hari tidak lagi otomatis. Fokus manual kamera ada di tombol jepret,
rada jelimet, kita harus nahan sedikit dulu tombol jepretnya hingga keliatan
fokus baru dipencet betul untuk mengambil gambar. Beda kalau siang hari,
fokusnya bisa bekerja sendiri karena cahaya yang masuk banyak. Karena si pemandu
rada udik kali ya, jadi main pencet aja, hasilnya jadi seperti ini *poker face*
SM*ASS
Pertama dan utama sekali kami dibawa masuk ke gedung paling
kecil di komplek itu. Entahlah itu gedung buat apa, saya tidak mendengarkan karena saya asik cekikikan bareng Danu di belakang. Adalah Tosa, Niku, dan Tata yang
sepertinya khidmat mendengarkan orasi si pemandu. Yang jelas di gedung itu kami
diperlihatkan foto-foto, gambar-gambar konstruksi, arsitektur, dan gambar-gambar lainnya segala yang berkaitan dengan Lawang Sewu.
kesusahan narik tuas
Next, kami dibawa ke gedung tahanan. Begitu masuk, pertama
kali ada pajangan maket komplek Lawang Sewu, kemudian gambar-gambar lagi, si pemandu menjelaskan, lagi-lagi saya dan Danu tidak begitu menyimak. Yang paling konyol adalah, kami
diperlihatkan tuas-tuas pengendali air bawah tanah yang kemudian ruang bawah tanah tersebut dialih fungsikan sebagai penjara oleh Kolonial Jepang, setelah di jelaskan, si
pemandu menarik salah satu tuas tersebut sambil baca Basmalah, kemudian
membalikkannya posisinya lagi seperti semula. Kemudian Tosa mencoba menarik
tuas lainya, namun tidak bisa, keras. “Menariknya ga boleh sembarangan harus
dari hati, pake Bismillah”. Sontak yang lain termasuk saya bergantian mencoba
menarik tuas tersebut seperti yang diinstruksikan si pemandu, dari hati, sambil
baca Bismillah, meski si Gata menariknya tanpa Bismillah, karena dia seorang Kristian, sekedar penasaran. Tidak ada yang berhasil, ini seperti sayembara
bagi yang berhasil menarik tuas ini akan dinikahkan dengan putri mas pemandu.
Saya mulai curiga, asal tau aja, meski kedengerannya bodoh, tapi saya tadi sudah yakin akan bisa menarik tuas itu, saya
menariknya dengan penuh perasaan, keyakinan, optimisme, ketulusan, dan
keikhlasan, membaca Bismillah dengan khusyuk, namun tidak berhasil. Saya
perhatikan si pemandu terus memegangi tuas yang tadi ditariknya. “Eng… mas,
coba saya tarik yang itu”. Saya sambil menunjuk tuas yang dipeganginya itu. Ia lepas
tangan sambil cengengesan. Saya menariknya, dan ternyata…. yak, anda benar,
tahun gini gitu loh, masih ada aja yang begituan. Anda bisa menebak sendiri
kelanjutannya.
But, wait a moment...
***
tangga menuju lantai... "duaaaaaa..." (sar*mi)
Kita diajak naik tangga menuju lantai atas. Suasana mulai gelap. Sesuai alur tadi, saya tidak mendengarkan penjelasan si
pemandu, terlebih udah illfeel sama kejadian “tuas ajaib” tadi. saya sibuk
muter-muter sama Danu.
suasana salah satu lokasi di lantai 2
Kemudian
kita dibawa ke loteng, tidak tahu fungsi dulunya apa, kan saya tidak nyimak kata pemandu
nari balet malam-malam di loteng Lawang Sewu? Close enough!
Jeng! Jeng! Jeng! Acara klimaks! penjara bawah tanah….
Hanya orang kurang kerjaan yang melanggar caution diatas
Untuk masuk penjara bawah tanah kita harus bayar 10ribu lagi
per kepala plus pemandu baru lagi 20 ribu #ngenes .
saya beri judul foto ini : merogoh kocek dengan muka nanar
Untuk kebawah kita harus
memakai sepatu boots karena seluruh ruangan penjara digenangi air.
tangga akses penjara bawah tanah
Kita berbaris berbanjar. Barisan depan (Tosa), tengah
(Gata), dan belakang (Danu) bertugas memegangi senter. Si Danu ogah-ogahan
baris paling belakang. Meski beda jauh, melihat posisi seperti itu saya jadi
ingat chapter saat adegan tim Naruto mengejar Sasuke, mereka membentuk barisan
berbanjar disusun berdasarkan skill masing-masing, Shikamaru paling depan
dengan kemampuan insting dan analisanya, dan Neji paling belakang dengan
penglihatan 360 derajat oleh byakugannya. Saya melihat Tosa yang gemar
mendengarkan memang lebih cocok didepan bersama pemandu, Danu dengan sifatnya
yang pecicilan sepertinya bisa meresist gangguan dari belakang dari miss kunti
atau dari makhluk sejenis lainnya.
boots diobral! diobral! *jayus
Ket : itu bukan lg ngerokok, belagak doank
Kita diperlihatkan tempat-tempat penyiksaan tahanan, mulai dari penjara jongkok (tahanan jogkok dalam petak-petak yang diisi air se-leher dan tahanan dibiarkan sampai mati), penjara berdiri (kalo yang ini bedanya tahanan berdiri dalam air yang seleher juga, dan lagi-lagi tahanan dibiarkan sampai mati), pintu saluran air, sampai lubang corong pembuangan mayat.
suasana di kota santri. eh, suasana di bawah tanah
alasan kenapa harus pake boots
di lubang ini tahanan yang sudah mati dibuang
Selesai keliling-keliling areal penyiksaan yang ternyata panjang juga, kita
sampai di titik awal tadi. Anak-anak
excited pengen uji nyali. Kami ditinggal bersama pengunjung lain, yaitu bersama
2 orang cewek yang kami temui disana. Kami
berbaris persis di tempat uji nyali Dunia Lain episode Lawang Sewu yang
fenomenal itu
Selingan :
Masih ingatkah kejadian penampakan disini?? Ada dua kali penampakan disini, saat uji nyali dan dimenit ke-7 di belakang presenter di atas tangga. Yang uji nyali dikabarkan meninggal setelahnya, hingga Dunia Lain diganti dengan
Masih Dunia Lain. Dan episode Dunia Lain “Lawang Sewu” ini berhasil menggaet
penghargaan tingkat asia (ah, kangen Dunia Lain)
uji nyali is over!
Pemandu naik kembali keatas meninggalkan kami, kemudian ia mematikan lampu dinding di ruangan kami. Blackout! Diawali oleh cewek-cewek tadi yang duduk di paling ujung arah kiri saya saling
cekikikan, saya diam saja mendengarkan mereka cekikikan, Danu ikutan cekikian.
Anak-anak yang serius dan penasaran uji nyali sibuk
ber-ssshhhh ssshhhhh… agar anak-agar yang
berisik bisa diam. Kemudian hening, gelap total. Seketika itu saya bisa
merasakan feeling orang-orang di acara uji nyali di
tivi-tivi. Saya saja yang berada ditengah-tengah orang ber-8 rasanya sudah
begini. Saya jujur tiba-tiba mulai deg-degan, kalau ingat dulu saya suka nonton Uka-Uka Gentayangan tiap jam 12 malam di TPI (sekarang MNC). Disana sering ada penampakan juga,
saya rasa itulah pioneer acara uji nyali sejenis Dunia Lain di Indonesia. Dulu
pas SMP saya sering nonton acara itu sendirian malam-malam di ruang
keluarga. Tidak jarang saya mematikan lampu. Kadang ada penampakan kadang
tidak. Saya jadi penasaran jadi peserta uji nyali tsb. Kadang saya heran kenapa ada
orang yang ke kamar mandi saja takut sama hantu, jalan malam-malam di tengah lorong sepi juga takut. Bahkan cowok pun juga tidak jarang. Saya dulu sering jalan sendirian di
lorong rumah sakit tengah malam untuk mencegah kantuk
saat menjaga nenek saya yang sedang sakit.
Niku, masih dg lokasi uji nyali
Dan di asrama saya yang sudah tua,
ceritanya dulu sering ada penampakan di luar dilihat dari jendela, sekitar kamar mandi, sekitar
pohon mangga dan jemuran. Saya hampir tiap malam sekitar jam 2-an selalu jalan sendirian ke kamar mandi, kemudian berak
di WC paling ujung dekat jendela yang konon di zona luar sebelah jendela itulah
para pendahulu penghuni asrama ini sering melihat yang aneh-aneh. Penasaran, kadang saya menoleh keluar jendela, untung-untung saya menemukan "sesuatu" itu, namun nihil. Kadang
teman saya yang penakut di kunci di kamar mandi oleh teman lainnya yang suka jail, lalu lampunya dimatikan, dia
berontak-berontak. Saya juga pernah jadi korban “tes takut
setan” seperti itu, dikira saya takut gelap-gelapan sendirian di ruangan? ah, engga
layau. saya santai aja, kadang saya lagi nyuci, ya sudah terpaksa saya
meneruskan nyuci sambil gelap-gelapan, sampai mereka menyerah. Kadang saya juga berontak,
ya abis saya pasitu baru aja selesai wudhu, orang mau shalat, jadi saya teriak-teriak ke mereka “Woy! Gue mau shalat Maghrib, dah mau Isya nih!!”. Mungkin
merasa berdosa menghalangi niat orang ibadah, pintunya dibukain lagi. Soal yang
horror-horor saya punya cerita sendiri, kapan-kapan cerita dicini ah! :3
Balik ke topik, disini saya mulai deg-degan, apa sebab?
Bayangan putih datang dari sebelah kanan saya. Si Danu kaget. Ternyata ia juga
merasakannya. Lalu dengan sigap menyalakan senternya kearah bayangan tadi,
namun hilang seketika. Saya gelisah, serasa hidup saya terdesak. Saya berusaha
mencegah bayangan-bayangan lain sebelum mereka dari dimensi
lain itu benar-benar menampakkan wujud mereka. Saya
mencegahnya dengan cekikikan sambil jokingan jayus agar suasana lebih rame. Saya tidak mau diam, “Pak, udah pak”. Ujar saya sambil melambai-lambaikan tangan
persis di acara uji nyali tadi. Sampai akhirnya si pemandu sang penyelamat
datang dan menyalakan lampu. Sebagian anak-anak terlihat ngedumel.
Kita balik lagi ke lantai atas, dalam hati saya kekeuh
“Udah, cukup sekali itu saja”. Kita keliling lagi sebentar. Sayangnya gedung
utama yang paling megah seantero komplek tidak dibuka untuk umum. Sepertinya
gedung itu adalah kantor utama. Kita hanya bisa mengintipi dari luar lewat
celah-celah pintu. Selesai leyeh-leyeh mengitari
komplek lawang sewu tanpa pemandu, kita mampir di lokomotif yang di pajang di
halaman depan. Tossa dan Tata naik ke atas, saya cukup duduk-duduk di bawahnya
dan yang lainnya berdiri melihat dari bawah menyaksikan Tossa dan Tata.
“Biarlah, kita serahkan malam ini sepenuhnya untuk mereka berdua” ujar Danu.
Saya tidak terlalu memperhatikan perbuatan maksiat apa yang mereka perbuat diatas, saya duduk
sendiri di bawah sibuk menikmati arsitektural bangunan utama. Tossa dan Tata
memang sepertinya “eman-eman” untuk ditimbrungi, sejak keluar dari penjara
bawah tanah tadi mereka berdua sepertinya lebih banyak memisahkan diri dari
kita. Bahkan sebelum berduaan di atas lokomotif kita sempat nanya “kalian satu
sekolah?”, “iya”, “satu kosan?”, “enggak”, “kenapa ga satu kos-an aja?”, “atau
satu kamar?” imbuh yang lain. “pengennya sih gitu” jawab Tata.
ciee cieee...
***
Usai dari Lawang Sewu kita terjun ke Taman KB, mencari
tempat makan untuk memenuhi permintaan si Danu yang dari tadi mengeluh
kelaparan. “Taman KB? Taman Keluarga Berencana?” Danu penasaran. “bukan, taman
buat yang ‘K’-nya berukuran ‘B’ ” Jawab Tossa nyengir, Saya cengengesan, si Danu
bingung. Maaf, kalo soal ini radar saya memang kuat. Hehe… *nyengir
Selesai makan di foodcourt taman KB, (yang ternyata esoknya
saya dikasih tahu kalo taman KB itu zona rawan perempuan jadi-jadian alias
banci), anak-anak sibuk mengeluarkan motor dari
parkir, sedangkan saya tergopoh-gopoh menghampiri Danu, segera merampas tas-nya dan mengambil kamera di dalamnya karena di
area parkir itu saya mendapati… TARAAAAAAA… ini dia!