Sepanjang Jalur Timur Sumatera

Posted on Rabu, 02 Mei 2012 | 0 komentar
Tepatnya Rabu 15 Februari lalu saya memulai keberangkatan kembali ke Jogja. Kembali kuliah. Karena saya belum pernah sama sekali ke pulau jawa via jalur darat maka saya memutuskan memilih transportasi bus, oleh karena itu beberapa hari sebelumnya saya minta saran dan tips-tips dari pak gapuak tetangga yang sebenernya notabene saudara saya juga tentang semua-muanya berkaitan dengan perjalanan via bus. 

Pada hari keberangkatan setelah dapat wejangan dan uang jajan dari orang tua, saya pamit kemudian tancap gas menuju kantor bupati yang berlokasi di Kayu Aro, jadi ceritanya gini kata bapak tebe, eh, kata pak gapuak kalau mau dapat ongkos agak murahan (biasalah,darah minang) beli tiketnya jangan lewat agen tapi nyetop di jalan aja. Tapi karena sudah banyak juga agen yang sudah tahu taktik calon penumpang ini, sekarang agen sampai-sampai ngikutin masuk bus agar yang nyetop di jalan tidak bisa berkilah. Nah, pak gapuak bilang kalau biasanya si agen ngikutin bus cuma sampai Lubuk Selasih, oleh karena itu saya nyetop busnya mesti agak jauhan dari lubuk selasih yaitu di Pintu Angin, gatau juga kenapa namanya Pintu Angin, tapi saya malah berencana turun lebih jauh lagi, di depan kantor bupati. 

Tanpa diantar dan ditemani (sebelumnya ayah marah-marah ke abang saya karena dia males ngantar saya, padahal kalau pakai mobil sendiri tentu nantinya saya gak bakal kerepotan apalagi saya mau perjalanan jauh berhari-hari pula. Walaupun begitu saya sih no problem lah, kalua dia gak mau nganter ya sudah) saya menaiki minibus yang di dalamnya saya duduk gencet-gencetan. Koper saya di taruh di atapnya bersama barang-barang para pedagang yang mau berjualan ke kota solok. Selain ibu-ibu yang mau berjualan, ada juga penumpang yang sepertinya mau ke ladang, dan ada juga yang berpakaian rapih seperti saya (belagak). Soal ongkir, saya tidak mau menanyakan berapanya ke kernet, karena saya sudah tau ongkosnya 5000 (sekitar 1 jam perjalanan). Kalau nanya, nanti pasti harganya dilebihkan, oleh karena itu saya kasih uang 5000 pas gak lebih gak kurang dan gak ada kembalian plus gak ada komplain dari uda kernet. 

Eh, pas banget, sesampainya, baru aja saya turun dari minibus tadi saya langsung di klakson sama supir bus A.N.$ (nama salah satu bus antar provinsi dan juga bus rekomendasi pak gapuak untuk soal harga) yang lewat depan saya. Saya mengangguk dan kemudian busnya berhenti. Seorang uda-uda kernet keluar kemudian langsung mau mengangkat koper saya, tapi seketika itu saya ogah, dengan cepat saya menarik kembali koper saya yang mau dimasukkan ke bagasi olehnya, eits! Kan mesti kesepakatan dulu donk, mwehehe…. “Bara ongkos da?” saya nanya, “kama tu diak?”, “Bandung” “awak kecekkan se a, ongkosnyo 310 ribu”, “ndak duo sangah se?”, “ndak bitu do, tambah lah 20 lai da” sambil merangkul pundak saya. Akhirnya kita deal ongkosnya 270 ribu, lumayan hemat 40 ribu bisa buat makan tiga hari mah kalau di Jogja (ga ada translate ya, yang penting kan udah tau kesimpulannya apa). 

Bus melewati kota Solok kemudian berenti gaje “agak lama” di terminal kota solok. Lama setelah itu saya baru tau alasannya setelah ada sebuah bus yang datang kemudian tau tau kami dipindahkan ke bus itu. Saya yang awalnya duduk sendiri dan sudah merasa lapang jadi pindah ke bus itu yang sudah setengah penuh, walau begitu saya ternyata tetap dapat berlapang-lapang karena tetap tidak kebagian teman sebelah, saya bisa menaruh jaket, kantong oleh-oleh yang mau dibagikan ke teman-teman di Jogja dan snacks (baca : banyak snack) di kursi sebelah. Tinggal beberapa kursi yang masih kosong dalam bus termasuk kursi di sebelah saya ini. 

FYI, lintas sumatera ini ada 2 yaitu lintas barat dan lintas timur, kalau gak salah juga ada lintas tengah, saya lupa. Jalur bus yang saya tumpangi ini bakal menempuh jalur lintas timur. Kata uda yang duduk di sebelah saya (akhirnya diisi juga, karena sampai di Sawah Lunto bus sudah terisi penuh) jarang-jarang ada bus yang lewat lintas timur dan itu juga bakal pengalaman pertamanya dia, padahal sudah tujuh tahun di Jakarta dan bisa empat kali pulkam dalam setahun tidak pernah lewat lintas timur yang konon baru itu. 
Perjalanan saya paling jauh lewat jalan ini sampai detik itu baru sampai Sawah Lunto, tepatnya sampai Waterboom Sawah Lunto, setelah-nya saya sudah tidak kenal lagi daerah yang dilewati bus.

For bukti! (bukti apa narsis? Hehe)
Sorenya kami sampai di Sungai Rumbai. Seiring berjalannya waktu akhirnya saya tau juga dimana Sungai Rumbai itu berada. Dulu pas SMA di Padang jika pulang kampung saya sering liat bus jurusan Sungai Rumbai lewat, saya pertama dengar nama daerah itu ya dari bus yang lewat searah dengan kampungku itu. Makin lama setiap pulkam saya jadi terbiasa dengan nama itu dan kini akhirnya saya tau dimana Sungai Rumbai itu, ternyata termasuk daerah terluar Sumbar yang merupakan kota kecil dan berbatasan dengan propinsi Jambi. Tidak tau kenapa dan alasannya apa, sepanjang perjalanan melewati kota ini saya merasa penasaran untuk berkeliling kota ini, tapi apadaya saya sedang berada di bus Padang-Jakarta, bukan Padang-Sungai Rumbai bus yang sering saya liat pas SMA dulu setiap kali pulkam itu sehingga saya tidak bisa turun berleyeh-leyeh dulu disana. Mendengar obrolan orang di dalam bus katanya orang-orang sini pada keluar malam hari, “disitu hampir setiap malam ramai oleh warga sini” kata seorang bapak menunjuk sebuah lapangan bola nan becek gak ada ojek yang sedang kami lewati. Beberapa jalan di Sungai Rumbai digenangi air bahkan ada yang dalamnya selutut dan beberapa jalan ada yang berlubang menambah dalam genangan air yg membuat kami dalam bus digoyang ajip-ajip ketika bus jalan diatasnya. 

Untuk pertama kali bus berhenti istirahat di rumah makan di pinggiran kota ini. Saya ingat kalo kata bapak tebe, eh, kata pak gapuak kalau makan dibungkus saja alsebab kalau dihidangkan lebih mahal. Ebuset! gataunya bungkus kena 20 ribu! Awalnya Saya kira paling mahal makan dijalan bakal 15 ribuan, itu paling mahal yang saya kira loh! Standarnya paling 10-12 ribuan kalo bungkus, sama kayak rumah makan di Padang biasanya, Eh gataunya kok lebih mahal ya? Sepertinya pihak rumah makan benar-benar ambil kesempatan memeras kami yang mau berjalan jauh (semua rumah makan yang kami singgahi tiap provinsi mematok harga yang sama waktu saya bungkus). Saya makan dalam bus bersama beberapa penumpang lainnya yang lebih memilih ngirit membawa bekal sendiri dan selebihnya makan dirumah makan, dihidangkan. Sepertinya cuma saya yang bungkus dan dibawa makan dalam bus. Karena porsinya lumayan banyak, saya cuma menghabiskan setengahnya saja, setengahnya lagi saya bungkus kembali untuk dimakan di pemberentian bus berikutnya (setelah itu bus berenti makan lagi di Jambi sekitar jam setengah 12 dini hari) sehingga saya tidak perlu beli lagi yang otomatis keluar duit lagi. Ketika busnya selesai dan jalan lagi, semua penumpang sudah masuk kembali, saya bilang ke uda sebelah saya yang tadi ikut makan di rumah makan “maha makan disiko yo da”, “standar” katanya, hah! Segitu di bilang standar! “bara kanai tu da?” “21000”. Gilee… kirain dia bilang standar tadi karena bisa dapat lebih murah, kok bisa dibilang standar ya?? 

Malam harinya kami sampai memasuki kawasan provinsi jambi, Kesan pertama saya pada Jambi adalah, propinsi ini lengang, tidak sepadat propinsi lainnya, ternyata memang kenyataannya propinsi ini kepadatannya setengah dari kepadatan Sumatera Barat, sepanjang malam dan sepanjang bobo-bobo ayam di dalam bus yang kurang nyaman dimana gak bisa meluruskan kaki, gak bisa bebas tiduran dengan gaya yang paling nyaman, bus melintasi propinsi jambi dari salam hingga khatam alias dari ujung ke ujung hingga kami sampai di Sumsel dan melewati kota Palembang sekitar jam 10 pagi esoknya. 
Welcome to South Sumatera

Embun pagi di Palembang
Meski cuma lewat pinggiran kota Palembang, gak pinggir-pinggir juga sih. Saya melihat banyak pembangunan bangunan baru baik yang sedang on hold maupun yang keliatannya baru jadi. Bangunannya modern dan unik-unik pula, tidak asal gedung tinggi saja. Yang saya ingat juga, saya sempat berdecak kagum ketika melewati sebuah gedung sekolah terpadu TK-SMA disana, saya tidak pernah melihat gedung sekolah sebesar dan semegah itu di Padang, coba gedung sekolah saya dulu seperti itu. 

Sungai Musi
Sumatera selatan ini mungkin kebanyakan daratannya adalah rawa, apasebab, disepanjang jalan banyak sekali saya temukan rumah-rumah yang ditinggikan. Meskipun pembangunan di Sumsel keliatan maju tapi kebanyakan rumah-rumah di daerah atau kota-kota kecil masih semacam rumah-rumah tua dari papan dan kayu yang ditinggikan sehingga terdapat kolong besar dibawah rumah yang digenangi air rawa atau sungai, bahkan di tanah yang sudah tidak rawa pun rumah-rumahnya masih begitu, rata-rata juga rumahnya tidak dicat. 


Rumah-rumah di Sumatera Selatan
Beda lagi ketika melewati Lampung, disana ada banyak kebun yang luaaaaaaas banget! Tidak ada saya temukan kebun-kebun kecil (milik warga), semuanya kebun spesifik satu jenis tanaman yang super luas. Ada kebun tebu, kebun pohon karet, kebun singkong, kebun apalagi gitu. Beberapa kebun juga ada yang berlokasi sama dengan pabriknya yang berdiri di tengah-tengah atau tepatnya di kawasan kebun itu sendiri, nah, itu juga, Lampung juga punya banyak pabrik, karena beberapa kali saya melihat pabrik-pabrik besar berdiri sepanjang perjalanan. Tulang Bawang (masih propinsi Lampung) adalah satu-satunya nama daerah baru yang bisa saya ingat sampai sekarang sejak perjalanan dari Padang hingga Bakauheni ini, karena yang berkesan dari daerah ini ternyata banyak sekali orang-orang hindu disana. Mereka membuat pura-pura atau tempat ibadah sendiri di halaman rumah, warna-warni dan cantik, bahkan lebih bagus dan juga ada yang lebih besar dari pada rumah mereka sendiri. Disepanjang jalan berjejer rumah-rumah dan pura-puranya itu yang membuat Tulang Bawang ini unik. Jujur ini pertama kali saya liat komunitas Hindu di Sumatera. Bangunan kantor bupati dan kantor instansi lainnya di Tulang Bawang juga bagus-bagus. 
Kemana ku harus mencari Lampung?

Plank bank daeah Lampung pun tak ketinggalan di jepret
Errr... macett!
Sore sekitar jam empat saya dan rombongan (cieh, rombongan haji kalleee) sudah sampai di kota apagitu namanya lupa, letaknya di Lampung Tengah yang menghantarkan kami sampai di Bandar lampung sekitar jam 6 sore diiringi hujan sebentar, kami terjebak macet yg lumayannn lama sekitar 1 jaman di pinggiran kota Bandar Lampung. Uda yang duduk di sebelah saya misuh-misuh karenanya. Oiya, ada kejadian konyol tentang si uda di sebelah kanan saya ini, jadi ketika kami masih di Sumsel sore-sore, si uda ini ngantuk, merem melek, sampai dia tiba-tiba nyandar (kepalanya) di bahu saya, sebentar-sebentar dia bangun kemudian menegakkan kepalanya lagi dari bahu saya, kemudian ngantuk, merem, bersandar di bahu saya, bangun lagi duduk tegak, begitu seterusnya, tapi siklus ini berenti sampai saya yang merasa agak kurang nyaman dengan bau kepalanya, entah pakai minyak rambut merk apa dan juga mungkin bau si uda yang merokok ketika kepalanya disandarkan di bahu saya (maaf, bukannya saya sok tapi emang kenyataannya begitu, coba aja kalo anda merasakan waktu itu), lama-lama saya niat untuk memajukan badan saya ketika gerak geriknya sudah menunjukkan fase mau bersandar di bahu saya. Sungguh saya cuma niat agar dia bangun ketika menyadari sudah tidak ada sandaran di sebelahnya (saya), dianya malah keterusan. Waktu saya sudah memajukan badan saya, saya tidak liat karena posisinya sudah di belakang saya, pandangan saya lurus kedepan, tiba-tiba terdengar bunyi kepala si uda yang sepertinya membentur dinding bus di samping kiri saya (saya duduk dekat jendela, dia duduk di sebelah kanan saya) diiringi dengan air mineral yg saya taruh di sandaran tangan dekat dinding itu jatuh, seketika itu saya nengok ke belakang, si uda sudah duduk manis tegak dengan mata yg terbuka lebar kemudian seorang penumpang yang duduk di belakang saya mengambilkan air mineral saya yang jatuh ke belakang. Maaf ya da…. 

Yang membuat saya tidak sabaran adalah menaiki kapal penyeberangan, secara itu bakal jadi pengalaman pertama. Terlepas dari macet sudah sekitar jam setengah 8 malam, setelah itu kami meneruskan perjalanan menuju pelabuhan Bakauheni melewati kota Bandar lampung. Mungkin ini juga imbas dari Lampung yang terletak di ujung Sumatera, membuat Lampung banyak memiliki pabrik apalagi di sepanjang garis pantai di Bandar Lampung sepanjang perjalanan menuju pelabuhan Bakauheni. Kelap-kelip lampu pabrik yang ramai menjadi pemandangan tersendiri. 

Kami sampai di Bakauheni jam 10 malam. Saya agak kesal dengan si supir yang kata sebagian penumpangnya lelet (saya kan belum pernah naik bus, jadi tidak bisa menilai cepat atau lambat sampainya), kesalnya saya tidak naik kapal penyeberangan pas siang hari.

Unpassed Flight is Expensive Experience

Posted on Sabtu, 10 Maret 2012 | 0 komentar
Fyuuuhhh…. Berkat ketabahan dan ketegaran hati saya, sekarang saya sudah mulai sumringah melangkah meninggalkan bandara. Ketinggalan pesawat untuk pertama kalinya adalah “sesuatu” pengalaman berharga dan mahal harganya. Iya, mahal. Pengalaman seharga 870.000 (harga tiket awal yang saya beli) itu menjadi pelajaran kedepannya bagi saya .
(Silakan baca post sebelumnya disini)

penginapan pertama yang saya temukan
Planning saya saat ini adalah mencari penginapan terdekat, termurah, dan termewah di sekitar bandara, hehe… kalau memang ada penginapan yang seperti itu sesuatu banget pastinya ya… tapi bakal gak bertahan lama, gulung tikar karena bangkrut merugi terus. Saya meneruskan perjalanan mencari dan memperhatikan tiap-tiap bangunan di pinggir jalan, berharap menemukan penginapan yang saya cari. Tak jarang tukang ojek menawari saya tumpangan, dalam hati saya geram. “Eh, mas ojek! situ gak liat apa!? tampang kayak saya ini tuh gak pantes naik ojek”. Walaupun pada kenyataannya saya memang sering melakukan hal yang tak pantas bagi saya itu. Saya sempat menemukan penginapan yang di papan pajangan depan pintunya bertuliskan “breakfast, lunch, dinner, AC”, kamar dengan fasilitas dan pelayanan seperti itu sudah pasti lebih dari 100.000 per malam-nya, sedangkan saya mencari (kalau ada) harga yang dibawah segitu.

mencari dan terus mencari... houoooo...
Saya mencari… terus mencari, berlari… dan terus berlari, mengejar penginapan murah meriah, murah bak kualitas film horor semibokep di negeri ini. Di kala itu tiba-tiba seorang supir taksi menyapa dan menawari saya tumpangan (akhirnya ada juga yang ma-lating-kan wajah saya dengan taksi), ia mendekati saya dan menanyakan saya mau kemana. Saya jawab jujur kalau saya sedang mencari penginapan meski saya sedang tidak butuh taksi.
“Mau kemana mas?” Tanya pak supir.
“Saya sedang cari penginapan pak”
“Oh, disana saja mas!” Pak supir menunjuk sebuah gang.
“ Berapaan kalau disana pak?”
“Delapan puluh ribuan ada.”
*Saya mengangguk-angguk.*
“Mari saya antar!” Katanya lagi.
Mmmmhhhh… pak supir baik deh :3
Saya kemudian mengikutinya bahkan ia juga memanggilkan pemiliknya segala. Saya memperhatikan bangunannya yang bertingkat, ada tiga kamar di lantai bawah dan tiga kamar di atasnya. Belum sempat saya mengucapkan terimakasih, tau-tau pak supir tadi sudah hilang ketika saya toleh kiri-kanan-belakang saya. Entahlah, mungkin barusan ada angin puyuh dahsyat lewat di belakang saya. Maicih ya pak supir… :3

“Kamar bawah semalamnya 130.000 mas, ada tivi dan pake springbed, kalau yang atas 85.000 cuma kasur.” kata pemiliknya, yang disebelahnya juga turut suaminya.
“Gak delapan puluh ribu aja ya mbak?” Saya nawar.
“Bisanya segitu mas” Balasnya nyengir.
Akhirnya saya ambil kamar atas yg paling murah itu. Ternyata disebelah kamar saya itu kamar kosan, berarti selain buat penginapan kamar-kamar disini juga buat indekos. Saya naik liat-liat kamarnya sebentar, ada kasur tok diatas lantai tanpa dipan dan kipas angin, tapi bagi saya yang terpenting ada colokan listriknya untuk menghabiskan waktu bersama laptop si unyil saya. Kemudian saya kebawah lagi mengambil barang-barang saya, tas dan kantong berisi oleh-oleh yang saya tinggal dibawah dan membawanya ke atas. Saya kebawah lagi buat ngangkatin koper, ternyata berat juga, tapi tunggu, aha! *ada lampu pijar nyala diatas kepala saya*, masa tamu sendiri yg repot-repot bawa barang-barang, pikir saya. Lebih baik saya meminta bantuan sama suami si mbak yang tadi membawa koper saya ke atas yang tangganya papan itu.

Sesampainya lagi diatas saya segera duduk-duduk berjuntai karena merasa lelah yang luar biasa dan teramat sangat sementara mas-nya setelah membantu membawakan koper saya ia balik ke bawah. Sementara itu saya mencoba menghirup nafas, mengecek nadi saya apa masih berdetak setelah kejadian tragis di bandara tadi. Angin yang berhembus di lantai dua itu terasa sangat kencang, sampai-sampai daun-daun dari pohon di depan kamar saya beterbangan masuk kamar. Suami pemilik penginapan ini kembali lagi ke kamar saya, ia membawa buku, sapu, dan sapu lidi kecil. Ia permisi membersihkan lantai kamar dari daun-daun yang masuk tadi dan menggebuk-gebuk kasur agar debunya hilang. Setelah itu ia membuka buku yg ia bawa tadi kemudian meminta KTP saya dan mencatat nama saya, canggih juga! Baru setelah itu saya memberikan uangnya dan dia menyerahkan kunci kamarnya. Mungkin ia ingat waktu saya menawar harga pas di bawah tadi ke istrinya hingga ia memulai membuka obrolan begini :
“Sebenarnya disini bisa dapat diskon mas, enggg….. tapi… mas-nya harus telanjang dulu.”
Deg! * saya speechless, tidak mengerti maksudnya, lidah saya tiba-tiba patah mau ngomong apa.
Mas-nya harus mau di foto telanjang.” katanya meneruskan.
“B…b…becanda mas?” Balas saya gagap
“Serius, biasanya ada yang mau kalau dia udah emang gak sanggup bayar lagi dan udah terpaksa. Bahkan kita kasih gratis, tapi dia harus mau kita foto telanjang, depan samping belakang, buat koleksi aja
Busett! Maksudnya apa buat koleksi?? Jangan-jangan mas ini germo lagi. Tapi saya tidak mau tanya macam-macam, yang terlintas dipikiran saya waktu itu adalah…
Cewe cowo mas?
Oh, enggak, cowo aja, kita gak bakalan sebarin gambarnya kok, di komputer ada kok foto-fotonya kalau mau liat buktinya.”
Whatzz!!?? saya bener-bener speechless mau ngomong apa, jangan jangan mas ini bukan germo, tapi homo!
“Makanya mas gak mau kan di foto telanjang?”
“Eng…enggak deh mas, makasih.”

ini dia penginapannya

Sepertinya mas itu masih ingin mengoprol saya, maksud saya mengobrol, mengobrol dengan saya, tapi sepertinya ia mungkin bisa aware melihat saya yang merinding merasa tidak enak mendengarnya (sangat tidak enak). Saya harus segera mencari cara agar ia pergi sebelum dia menempong saya secara paksa. Syukurlah, ternyata dia mengerti kata hati saya. Karena gerak-gerik saya, ia gelagapan dan pergi. Dan saya masih sempat menedang bokongnya hingga ia jatuh ke lantai bawah, dan tentu hal itu saya lakukan hanya dalam imajinasi saya. Entah usil atau memang bener apa yang dikatakannya tadi, sekarang saya tidak peduli, yang penting saya bisa sudah bisa tepar, melepas penat, sedikit melupakan semua carut marut ditengah-tengah pergolakan dunia yang kejam ini. Baru Sepersekian detik saya menutup mata saya, maaf, agak berlebihan, yang benar sekitar dua jaman kemudian saya kembali bangun dan membuka laptop, onlen buka fb dan twitter menghabiskan waktu. Ada tiga orang teman chatting saya waktu itu di fb, ketiga-tiganya saya bilangin kalo saya lagi di penginapan di Jakarta setelah mereka menanyakan sedang dimana saya berada, kamu dimana… dengan siapa… semalam berbuat apa…? Tak hanya di chat, di komen status pun saya juga bilang hal yang sama, hihi… kan malu kalo mereka tau. Alasan saya saat itu ke mereka adalah saya beli tiketnya pisah, maksudnya saya beli tiket Jogja-Jakarta itu pisah dengan Jakarta-Padang alias beda maskapai dengan tujuan ngirit, jeda atau selisihnya sehari, maka dari itu saya menginap di Jakarta dulu. Alasan yang cukup masuk akal bukan?

Kegiatan hari itu flat alias datar saja layaknya kegiatan anak kos seharian di saat libur tidak ada kuliah, tidak punya uang, tidak ada janji kelayapan, tidak punya pacar buat di apelin, tidak ada calling dari tante-tante arisan sebagai brondong panggilan, pokoknya anda tahulah kalo anda seperti itu seharian, di kamar ngapain aja? Ya makan, tidur, main laptop, pup, makan , tidur, main laptop, pup, makan lagi, tidur lagi, main laptop lagi, pup lagi, abis itu makan lagi, ti…, oke, oke, saya akan berenti sebelum anda melempar pup anda sendiri ke wajah saya.
Oia, ada satu kegiatan kecil yang nyempil diantara siklus tersebut, yaitu menelpon ayah! Kan gak lucu kalau besoknya saya gagal berangkat lagi gara-gara lupa minta dikirimin uang. Saya rada takut menceritakan semua ulah ketoledoran saya ini ke beliau. Oh no! bukan! Ayah saya bukan tipe orang yang keras dan pemarah, tapi takut disini maksudnya saya tidak enak bakal mengecewakan beliau, uang ratusan ribu yang diberikan ke saya untuk pulang melayang begitu saja karena kecerobohan saya. Jujur saya katakan disini kalau saya (sangat) menyayangi ayah. #hiks, jadi curcol *seka air mata*. Saya meneguhkan diri menceritakan semua dari A-Z ke beliau dengan rasa bersalah, respon beliau sama seperti biasa, respon yang sama jika saya berlaku salah atau benar, menjadi khas beliau sejak saya kecil sampai sekarang, yaitu tetap saja bicara santai tidak seperti sedang marah. Tapi bisa jadi kan dalam hati beliau kecewa? Setelah ayah memberi saya nasihat kecil beliau bilang kalau uangnya bakal dikirim besok pagi karena saat itu beliau sedang kerja. Satu yang saya sesali lagi setelah itu adalah, saya lupa mengucapkan… “Maaf”. Memang benar kalau kata maaf itu berat, bahkan saat sudah direncanakan sekalipun. Berat disini bagi saya juga mencakup “lupa”.

Esoknya, pagi-pagi jam delapan saya pun sudah siap dan sangat siap kembali ke bandara “Adi Soetjipto” yang kemarin telah mengkhianati saya. Mas pilotnya meninggalkan saya begitu saja berangkat on time dengan alasan profesionalitas, puas mas tampar saya, tampar lagi! #abaikan. Dengan gaya yang kece dan dandanan yang oke meski gak mandi (serius!) saya tetap pede keluar kamar menenteng semua barang bawaan saya kemudian turun tangga bak Cinderella yg sedang dinanti pangerannya dan memperhatikannya dari bawah. Berhubung saya pernah menjadi siswa teladan tingkat kabupaten, saya tidak lupa pamit sama mbak pemilik penginapan dengan ramah tamah dan tutur kata yang sopan serta grammar yang baik (syukur saya tidak bertemu suaminya).

Saya ingat penjaga konter kemarin bilang kalau saya harus pagi-pagi mengambil tiket, dan ini sudah jam 08.15. Di bandara saya ngalor ngidul berulang kali mengecek uang ke ATM. Waktu terus berjalan, pertama, kedua, sampai ketiga kalinya saya cek angka saldo saya dilayar ATM tidak juga bertambah-tambah. Ternyata ayah belum mengirim uangnya. Tuhan, plis… tambah satuuu aja nol-nya dibelakang untuk melepas kepepet saya sebentar. Syukurlah, sisa pulsa kemarin masih bisa cukup buat nelpon. Eh, ternyata uangnya baru mau dikirimin sama tukang ojek (ojeknya kepercayaan ayah saya mentransfer uang ke bank karena ayah sering tidak sempat) kata ayah saya. Karena saya sudah trauma sama kejadian kemarin, saya kebawa emosi, spontan dengan agak ketus (maaf ayah) saya meminta beliau buru-buru. Setelah itu dengan batin yang tidak tenang saya menunggu menghabiskan waktu dengan menonton tivi dekat pintu kedatangan. Setengah jam kemudian saya cek akhirnya uang saya sudah bertambah 500.000.

Lagi-lagi saya dihadapi dengan keadaan buru-buru, dihadapi dengan kegiatan lari-lari menuju agen, karena dibayangi-bayangi perkataan mas-nya kemarin kalau proses me-rebook ini bakal lama. Begitulah perjuangan seorang mahasiswa perantauan yang ingin pulang ke tanah kelahiran. Saya langsung memberikan kertas nota kecil yang dikasih kemarin ke konter agen tersebut masih dengan nafas ngos-ngosan setelah lari-lari plus mata yang melotot selebar-lebarnya.

Sambil mbak-nya memproses, saya sok-sokan menghitung uang 50.000an yang lumayan banyak yang barusan saya ambil dari ATM di dalam dompet dengan jari telunjuk saya layaknya bos-bos kantoran atau teller bank kalo lagi menghitung uang. Agar kesannya orang-orang yang melihat di sekitar saya mengira saya punya banyak uang, lebih banyak dari aslinya, saya men-double-kan hitungannya, yaitu menggesakkan telunjuk dua kali untuk satu lembar uangnya. Kemudian saya melakukannya lagi untuk mengeluarkan uang 877.000.

Gubrak! Ternyata prosesnya cuma sepuluh menitan, errrr… padahal saya sudah hampir modar lari-lari. Takut ketinggalan pesawat lagi karena prosesnya yang katanya lama itu. Tapi tidak apa-apa yang penting saya sudah dipastikan bisa pulang. Setelah tiket ada di tangan saya, saya disuruh langsung masuk karena boardingnya sudah dibuka. Saya lari jumpalitan menuju pintu masuk.

Ooooo… my sweety home , I’m cominggggg!!
>

Bersambung...

Followers